Posted by: sutan r.h. manurung | May 28, 2012

Laporan Auditor – Qualified Opinion

Laporan Auditor yg Menyimpang dari Bentuk Baku – Qualified Opinion – Wajar Dengan Pengecualian

20 Kondisi tertentu mungkin memerlukan pendapat wajar dengan pengecualian. Pendapat wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal yang berkaitan dengan yang dikecualikan. Pendapat ini dinyatakan bilamana:

  1. Ketiadaan bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan terhadap lingkup audit yang mengakibatkan auditor berkesimpulan bahwa ia tidak dapat menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian dan ia berkesimpulan tidak menyatakan tidak memberikan pendapat (paragraf 22 s.d. 34).
  2. Auditor yakin, atas dasar auditnya, bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yang berdampak material, dan ia berkesimpulan untuk tidak menyatakan pendapat tidak wajar (paragraf 35 s.d. 57).

 

 

 

Qualified Opinion

A qualified opinion report can result from

–          a limitation on the scope of the audit or

–           failure to follow generally accepted accounting principles.

A qualified opinion report can be used only when the auditor concludes that the overall financial statements are fairly stated.

 

A disclaimer or an adverse report must be used if the auditor believes that the condition being reported on is highly material.

Therefore, the qualified opinion is considered the least severe type of departure from an unqualified report.

 

A qualified report can take the form of :

–          a qualification of both the scope and the opinion or

A scope and opinion qualification can be issued only when the auditor has been unable to accumulate all of the evidence required by generally accepted auditing standards. Therefore, this type of qualification is used when the auditor’s scope has been restricted by the client or when circumstances exist that prevent the auditor from conducting a complete audit

–           of the opinion alone.

The use of a qualification of the opinion alone is restricted to situations in which the financial

statements are not stated in accordance with GAAP.

 

 

When an auditor issues a qualified report, he or she must use the term except for in the opinion paragraph. The implication is that the auditoris satisfied that the overall financial statements are correctly stated “except for” a specific aspect of them.

 

It is unacceptable to use the phrase except for with any other type of audit opinion.

 

 

 

20 Kondisi tertentu mungkin memerlukan pendapat wajar dengan pengecualian. Pendapat wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal yang berkaitan dengan yang dikecualikan. Pendapat ini dinyatakan bilamana:

  1. Ketiadaan bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan terhadap lingkup audit yang mengakibatkan auditor berkesimpulan bahwa ia tidak dapat menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian dan ia berkesimpulan tidak menyatakan tidak memberikan pendapat (paragraf 22 s.d. 34).

 

Pembatasan Lingkup Audit

Pembatasan yang umum terhadap lingkup audit mencakup pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan dan konfirmasi piutang melalui komunikasi langsung dengan debitur klien

 

Pembatasan lain terhadap lingkup audit yang umum adalah dalam akuntansi investasi jangka panjang, jika auditor tidak memperoleh laporan keuangan dari pihak investee.

 

.               Bila klien mengenakan pembatasan yang secara signifikan membatasi lingkup audit, biasanya auditor harus mempertimbangkan untuk menyatakan tidak memberikan pendapat.

 

Pembatasan lain atas lingkup audit

Kadang-kadang catatan atas laporan keuangan berisi informasi yang tidak diaudit, seperti perhitungan proforma atau pengungkapan lain yang serupa. Jika informasi yang tidak diaudit tersebut (sebagai contoh, bagian laba investor yang berjumlah material atas laba investee sesuai dengan metode ekuitas) sedemikian rupa sehingga informasi tersebut harus diaudit dengan prosedur audit untuk memungkinkan auditor memberikan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan, maka auditor harus menerapkan prosedur audit yang dianggap perlu terhadap informasi yang tidak diaudit tersebut. Jika auditor tidak dapat menerapkan prosedur audit yang dianggap perlu, ia harus memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau menyatakan tidak memberikan pendapat karena pembatasan atas lingkup auditnya.

 

Ketidakpastian dan pembatasan terhadap lingkup audit.

Jika auditor tidak mampu memperoleh bukti audit yang cukup untuk mendukung asersi manajemen tentang sifat hal yang berkaitan dengan suatu ketidakpastian dan penyajian atau pengungkapannya dalam laporan keuangan, auditor harus mempertimbangkan perlunya menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau pernyataan tidak memberikan pendapat karena keterbatasan dalam lingkup audit

 

Perikatan dengan pelaporan terbatas.

Auditor mungkin diminta untuk melaporkan hasil audit atas salah satu unsur laporan keuangan pokok dan tidak yang lain. Sebagai contoh, ia diminta untuk melaporkan hasil audit atas neraca dan bukan atas laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, atau laporan arus kas. Perikatan ini tidak menyangkut pembatasan lingkup audit jika akses auditor terhadap informasi yang mendasari laporan keuangan pokok tidak dibatasi dan jika ia menerapkan semua prosedur audit yang dipandang perlu sesuai dengan keadaan. Perikatan ini menyangkut pembatasan tujuan pelaporan, bukan pembatasan lingkup audit.

 

 

 

 

  1. Auditor yakin, atas dasar auditnya, bahwa laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yang berdampak material, dan ia berkesimpulan untuk tidak menyatakan pendapat tidak wajar (paragraf 35 s.d. 57).

 

Pengungkapan yang tidak cukup

Informasi pokok untuk penyajian secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia harus disajikan dalam laporan keuangan (termasuk catatan atas laporan keuangan yang bersangkutan). Jika informasi tersebut disajikan di tempat lain dalam laporan kepada pemegang saham, atau dalam prospektus, surat kuasa (proxy statement), atau laporan semacam yang lain, informasi tersebut harus diacu dalam laporan keuangan

 

Penyimpangan dari Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia yang Menyangkut Risiko atau Ketidakpastian, dan Pertimbangan Materialitas

Penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang menyangkut risiko atau ketidakpastian umumnya dikelompokkan ke dalam satu diantara tiga golongan:

a. Pengungkapan yang tidak memadai (paragraf 46 s.d. 47)

b. Ketidaktepatan prinsip akuntansi (paragraf 48)

c. Estimasi akuntansi yang tidak masuk akal (paragraf 49)

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: